Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)Jakarta
SalingSilang
-
Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
berkomentar
@Delpazir: iya nanti saya akan baca baik2. Lagi mau persiapan sahur. Jadi mau masak dulu 

@Subroto: Mesra kan boleh pak? Tapi masalahnya Delpazir itu anti ama batangan katanya

—Revolusi Seksualitas
di Politikana - 12 jam yang lalu -
Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
berkomentar
@Subroto: Tidak kenal,kenapa dengan anak itu?
Delpazir
@Delpazir: saya sudah baca, hanya saya kurang menarik debatnya. Karena menggunakan pendekatan moral. bagi saya kalau yang satu menggunakan pendekatan dogma agama sementara yang satu pakai rasional. Jadi gak nyambung2. Capek sendiri.
Makanya tulisan saya selalu menggunakan rasional dalam membahas seksualitas. Saya tidak mau masuk ranah apakah ini dosa atau tidak. Itu urusan dogma agama dan keyakinan orang.
Dan link yang mas kasih itu menurut saya debatnya menggunakan pendekatan moral. Saya sudah malas debat2 begitu. karena tidak banyak memberikan pengetahuan buat saya.
salam
Toyo—Revolusi Seksualitas
di Politikana - 13 jam yang lalu -
Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
berkomentar
Delpazir saya sudah baca, maaf sebelumnya saya tidak akan tertarik memang debat soal agama (yang dogmatis) dengan ilmu pengetahuan yang rasional.
Kalau bencana alama, homoseksual kemudian dikait2kan dengan moral. Gua angkat tangan deh. Karena gua gak mau masuk dalam ranah itu. Pijakan gua rasional. Gua mau beragama yang rasional tidak dogmatis.
Kalau tidak setuju gpp, tapi saya selalu berangkat pada persoalan rasional. Karena urusan dunia tidak bisa diselesaikan dengan dogma2 agama atau budaya yang tidak jelas ukurannya dan tidak bisa dibuktikan.
Kalau mau bicara agama secara dogma, biarkan itu urusan masing2 orang. Seperti saya yakin terhadap Allah SWT. Tapi apakah saya bisa buktikan bahwa Allah ada? Bagi ku itu gak penting, karena ini soal doktrin dan keyakinan. Tapi kalau urusan duniawi saya selalu berangkat pada hal2 yang rasional.
Maaf Delpazir kalau saya agak "malas" debat soal apakah karena ini kemarahan Tuhan atau tidak. Saya sudah "malas" diskusi seperti itu. Karena sudah jelas tidak ada titik temunya. Karena menggunakan dogma.
Ok, panggil saja saya Toyo, atau mas Toyo, Bang Toyo, adik Toyo. Terserah nyamannya bagaiamana.—Revolusi Seksualitas
di Politikana - 13 jam yang lalu -
Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
berkomentar
@Delpazir: Lah emang kamu apa gak mau cari pembenaran juga?
Masih lumayan gua cari pembenarannya pakai kajian ilmiah. Teori Freud dan Kinsey. Sementara kamu pakai dogma dan doktrin agama yang gak bisa dibuktikan secara ilmiah dan tidak rasional


—Revolusi Seksualitas
di Politikana - 13 jam yang lalu -
Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
berkomentar
@Delpazir: Anda boleh tidak setuju kok, tapi kamu juga boleh dong jalan terus.
Cuma sekedar informasi saja menurut Freud dan Kinsey bahwa manusia tidak ada satupun yang dilahirkan menjadi heteroseksual ekslusif. Jadi semua manusia mempunyai peluang untuk suka sesama jenis.
Jadi kalau Delpazir merasa manusia, maka suka atau tidak suka anda mempunyai peluang untuk menjadi homoseksual,hehehehehehe
—Revolusi Seksualitas
di Politikana - 14 jam yang lalu -
Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
berkomentar
Saya akan coba jawab:
@Laila: Iya saya memang karena ada lendir dan selangkangan. Makanya itu seksualitas layak untuk didiskusikan oleh saya dan manusia. Karena manusia juga ada karena lendir dan selangkangan itu.
@Mbak Joebir: Saya bukan penganut free sex, saya punya nilai-nilai sendiri soal sex. Kalau zina dianggap salah dalam nilai-nilai agama itu sah2 saja. Tapi saya tidak setuju nilai2 agama itu masuk dalam ranah kebijakan negara Indonesia. Alasanya karena negara kita bukan negara Islam. Berzina yang saya maksud adalah bukan berzina yang salah satu pihak atau keduanya mempunyai pasangan ya. Jadi berzina yang saya maksud disini adalah orang sama-sama single, contoh kasus luna dan ariel. Saya tidak setuju orangnya ditahan. Kalau soal videonya meyebar itu soal lagi ya. Karena agama nilainya soal dosa,akhirat. Sementara negara bicara soal dunia, dia harus rasional dan dibuktikan dengan kajian ilmiah. Berzina dalam konteks dunia tidak ada yang dirugikan apalagi satu pasangan saja. Kalau soal dosa itu urusan masing2 orang.
free7: dibanyak negara sudah ada pengaturan prostitusi dan membolehkan pernikahan homoseksual. misalnya negara canada, Afrika selatan, Argentina, sebagian negara Afrika, Spanyol, Belanda, dst. Tapi apakah masyarakatnya kemudian menjadi pelacur semua? atau menjadi homoseksual semua? Bisa cerita kalau yang pernah kesana? Prostitusi itu ada kaitannya dengan kemiskinan, saya sudah tulis dalam tulisan saya sebelumnya soal ini. Jadi Belanda atau negara2 itu justru prostitusi malah kecil jumlahnya dibandingkan Indonesia yang katanya masyarakatnya beragama.
Agama boleh saja mengatur aturan menikah, tapi negara tidak harus mewajibkan setiap orang menikah berdasarkan aturan agama. Negara hanya mencatatkan saja. mau dia menikah berdasarkan agama atau tidak, negara tidak boleh ikut campur. Kondisi ini dulu pernah terjadi pada masa tahun 60 an di Indonesia. Lagi2 agama soal personal.
Hukum Razam coba baca qanun jinayah di Aceh yang masih sekarang menjadi kontroversi di Indonesia. Kalau di luar negeri, coba kamu lihat di Iran dan beberapa negara Islam.
@Goku: sekali lagi saya tidak masalah agama mengatur umatnya.Tapi ingat agama soal aturan. Mau umatnya ikuti atau tidak tidak boleh ada sanksi yang diberikan oleh negara. Biarkan Tuhan yang memberikan sanksi. Masalahnya di Indonesia ini parahnya aturan agama tertentu dan tafsir tertentu dijadikan aturan negara. Itu yang saya tolak.
Sekali lagi, saya tidak sedang mendiskusikan dalam kerangka moral individu. Saya bicara dalam konteks negara. Karena saya tahu website ini bukan website agama dan tafsir tertentu. Kalau soal agama dan keyakinan itu urusan masing2 orang. Kita pijakan pada konstitusi negara.
@Mbak Joebir: Mungkin saran saya baca lagi sejarah2 budaya barat dan timur pada abad sebelum ada agama samawi, abad masa adanya agama samawi. Bandingkan soal barat dan timur soal seksualitas. Sekedar informasi saja, mengapa di Bali lukisan itu banyak perempuan menampakkan payudaranya. Itu karena imaginasi pelukis2 Barat thp perempuan Bali yang mempunyai budaya membuka payudara. Pada saat itu perempuan di Barat tidak boleh menunjukan payudaranya.Pokoknya masa abad pertengahan budaya barat mirip apa yang terjadi di Indonesia sekarang.
Satu lagi coba amati candi2 gambarnya. Untuk ukuran sekarang sangat sensual sekali. Coba bandingkan budaya Indonesia pada masa candi2 itu dengan masa di Barat. Pasti bertolak belakang. Jadi salah besar kalau ada yang mengatakan seksualitas yang terbuka itu budaya barat. Mesti buka lagi sejarah seksualitas.
Btw, kalau saya menulis begini jangan dipahami lagi saya penganut orang harus telanjang dan menggunakan Bra saja. Saya sedang diskusi saja. Kalau soal nilai kembalikan kepada masing2 orang. Hanya ukuran baik2 dan buruk itu gak bisa diukur bahwa dia menggunakan jilbab dan dia menggunakan tanktop. Itu yang ingin saya sampaikan. Bahwa seksualitas adalah otoritas individu dengan nilai2nya masing2.
—Revolusi Seksualitas
di Politikana - 14 jam yang lalu -
Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
berkomentar
@Subroto: Yang saya maksud dengan keadilan, kesetaraan dan demokrasi. Saya sudah saya jelaskan dalam tulisan itu. Salah satunya tidak ada dominasi,tanpa kekerasan dan harus2 setara relasinya. Mudah2an menjawab apa yang saya maksud.
@Depazir:seksualitas bukan cuma soal selangkangan tapi ada banyak hal. Kamu ada juga karena bagian dari seksualitas itu.
Pembelajar Sejati: Sex kadang dipengaruhi oleh faktor budaya, barat timur, Islam non Islam. Tapi kalau bicara kebebasan individu untuk menikmati sex, tidak berarti barat lebih bebas dari timur, atau sebaliknya. Masing2 punya sejarah masing2. Barat pada abad 17 an sangat konservatif soal sex. Sementara timur misalnya Indonesia sudah sangat kaya akan seksulitas. Dibuktikan dgan candi dan serat centini. Tapi kemudian pada abad 21 justru berbalik. Barat terbuka akan sex, tapi Indonesia justru masuk dalam masa abad 16-17 di Barat. Jadi kebolak balik.
@Free: Ada hukum larangan prostitusi, gay dan waria. Ada keharusan menikah dalam aturan agama dan negara. Itu yang saya katakan negara masuk dalam ranah seksualitas individu.
Agama memang sebaiknya memberi tahu saja, tapi faktanya kelompok agama terlalu sombong dan arogan soal sex. Jangan heran makanya ada hukum razam bagi pezina. Itu satu contoh saja agama dan negara menghakimi sez sebagai sesuatu yang kotor.
—Revolusi Seksualitas
di Politikana - 21 jam yang lalu -
Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
menulis
Revolusi Seksualitas
di Politikana - Minggu, 5 Sep '10 03:33 -
Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
menulis
Situasi Pengungsi Sinabung
di Politikana - Kamis, 2 Sep '10 19:02 -
Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id)
berkomentar
@Blentjong: Ada banyak buku yang mengatakan itu, mungkin kamu bisa baca-baca dan google soal Jugun Ianfu. Kadang kita tidak bisa terima kalau mereka dianggap pelacur. Tapi itulah faktanya. Sampai skrang mereka ada yang masih malu dengan diri sendiri, karena salah satunya anggapan pelacur itu.
@Raga : Memang isu prostitusi sampai sekarang masih menjadi banyak perdebatan, apakah ini bagian dari hak individu atau bagian dari korban. Aktivis perempuan masih berdebat soal itu. Untuk konteks Indonesia memang hampir banyak orang setuju bahwa prostitusi adalah korban. Kalau yang kamu contohkan bahwa karena pengaruh kehidupan mewah dan gaul, itu artinya ada sistem globalisasi atau pasar bebas membuat berdampak pada perempuan. Misalnya pola konsumerisme. Dalam hal ini analisis marxis bisa dijelaskan soal kasus ini. Jadi karena ada sistem yang tidak adil secara ekonomi maka perempuan selalu diimagekan yang cantik itu putih, langsing atau rambut lurus. Industri membuat itu semua, akibatnya orang dalam hal ini perempuan menjadi korban sistem tersebut, maka mereka akhirnya sampai menjual tubuhnya. Dalam hal ini mereka juga adalah korban.
@Mobil: Hampir lebih dari 50% prostitusi umumnya korban Traffiking, KDRT. Saya tidak tahu apakah ada data yang kesadaran sendiri menjadi seorang prostitusi. Dalam konteks Indonesia seperti sangat kecil sekali kemungkinan ada orang yang memang dgan sadar mau jadi prostitusi. Jadi sangat tidak tepat kalau langsung meyalahkan langsung prostitusi. Cobalah dengarkan persoalan mereka kompleks sekali.
Komnas Perempuan bukan mendukung prostitusi, tapi KP menolak prostitusi dikriminalkan. Alasan dasarnya adalah salah satunya para prostitusi itu adalah korban. Kita tidak tahu prostitusi mana yang korban traffiking, KDRT dan korban lainnya. tapi perda itu mengkriminalkan semua prostitusi. padahal mereka korban traffiking kemudian mereka dikriminalkan lagi, sudah jatuh ketimpa tangga lagi. Jadi begitu cara melihatnya. Selain yang juga disebabkan oleh alasan Raga meyampaikan bahwa pasalnya multitafsir dan rawan salah tangkap. Untuk ini, KP ada film judulnya ATAS NAMA.
@Laila : ini memang bicara soal lendir, karna kamu, aku dan orang2 disini tidak ada yang lahir sampai jadi sekarang yang tidak berasal dari lendir-lendir itu. Hidup lendir-lendir
—Jugun Ianfu Riwayatmu Dulu, Pelacur Riwayatmu Kini
di Politikana - Kamis, 2 Sep '10 02:10 - 10 berikutnya ↓
Waktu berlalu, tapi data di aplikasi tak kunjung datang. Mohon tunggu sejenak. :)
Saat ini Lembaga Ourvoice (www.ourvoice.or.id) belum terdaftar di . Anda bisa mengajaknya bergabung.